Home » » pengertian dan sejarah sintaksis

pengertian dan sejarah sintaksis


1.Pengertian dan Sejarah Sintaksis
  1. Pengertian Sintaksis
Ø  Kridalaksana (2001:199) menyatakan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dan kata, atau antara kata dan satuan – satuan yang lebih besar, atau antar satuan yang lebuih besar itu dalam bahasa.
Ø  Ramlan (1981) menyatakan bahwa sintaksis ialah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk – beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase.
Ø  Jadi sintaksis menurut kelompok kami adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat.
Apabila dilihat dari unsur terkecilnya, yaitu kata, kata adalah unsur pembentuk frase, frase adalah unsur pembentuk klausa, klausa adalah unsur pembentuk kalimat, kalimat adalah unsur pembentuk wacana. Jadi wacana merupakan satuan terkecil dalam kajian sintaksis. Oleh karena itu, kata sering disebut sebagai satuan bahasa terkecil yang bebas dan bermakna.
1. Fungsi Sintaksis
Fungsi kajian sintaksis terdiri dari beberapa komponen. Diantaranya adalah subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Dalam blog http://zieper.multiply.com/memperjelas tentang hakikat dari subjek dan predikat, objek dan pelengkap, serta keterangan. Semuanya akan dijelaskan sebagai berikut.
a.       Subjek dan Predikat.
1)      Subjek merupakan bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’.
2)      Subjek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.
3)      Jika diubah menjadi kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel -kah. Predikat dapat diberi partikel -kah.
Contoh dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat adalah, ‘Adik sedang makan’. ‘Adik’ menduduki fungsi subjek, sedangkan ’sedang makan’ menduduki fungsi predikat.
‘Adik(S) sedang makan(P).’
b.      Objek dan Pelengkap.
1)      Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomina.
2)      Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semi-transitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif(tidak memerlukan objek).
3)      Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.
Berdasar ada tidaknya objek kalimat dibedakan menjadi kalimat transitif dan intransitif.  Kalimat transitif adalah kalimat yang memerlukan objek. Sedangkan kalimat intransitif merupakan kalimat yang tidak memerlukan objek.
Contoh kalimat yang memiliki objek yaitu ‘Kakak sedang memasak sayur-mayur’. ‘Kakak’ berfungsi sebagai subjek, sedang memasak menduduki fungsi predikat dan ’sayur-mayur’ merupakan objek.
‘Kakak(S) sedang memasak(P) sayur-mayur(O).’
Untuk kalimat yang memiliki pelengkap adalah ‘Paman berjualan sayuran’. Subjek diduduki oleh kata ‘Paman’, ‘berjualan’ menduduki fungsi predikan dan ’sayuran’ sebagai pelengkap.
‘Paman(S) berjualan(P) sayuran(Pel).’
c.       Keterangan.
1)      Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap.
2)      Berupa frasa nomina, preposisi, dan konjungsi.
3)      Mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap.
Contoh kalimat yang memiliki keterangan adalah ‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’. ‘Kemarin’ dan ‘di pasar induk’ merupakan keterangan, untuk ‘Pak Anwar’ menduduki fungsi subjek. Kata ‘membeli’ merupakan predikat dan ‘buah-buahan’ adalah fungsi objek.
‘Kemarin(Ket), Pak Anwar(S) membeli(P) buah-buahan(O) di pasar induk(Ket)’.
2. Frasa
a. Pengertian
Dalam kajian sintaksis, frasa adalah komponen didalamnya. Pengertian frasa sendiri didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139).  Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yangbersifat non predikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (http://imam-suhairi.blogspot.com/)
Jadi, dengan kata lain frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi satu batas fungsi. Fungsi tersebut merupakan jabatan berupa subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.
Contoh frasa adalah sebagai berikut,
1)      gedung bertingkat itu,
2)      di luar,
3)      kemarin pagi,
4)      sedang tidur,
5)      yang akan datang,
Jika contoh tersebut diletakkan dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja. Misalnya.
1)      Gedung bertingkat itu(S) ambruk(P).
2)      Anis(S) bermain(P) di luar(Ket).
3)      Kemarin pagi(Ket), ibu(S) pulang(P).
4)      Ayah(S) sedang tidur(P).
5)      Bule(S) yang akan datang(P) lusa(Ket).
b. Jenis Frasa
Didalam frasa, digolongkan menjadi dua jenis. Yaitu, berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya.
1)      Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya).
Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya), frasa dibagi menjadi dua, yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris.
a)      Frasa Endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu, dpat digantikan oleh unsurnya. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat.
Contoh:
Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P).
Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya ‘Sejumlah di teras’ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, ‘Sejumlah mahasiswa’ adalah frasa endosentris.
Frasa Endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga.
(1)   Frasa Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) ‘dan’ atau ‘atau’.
Contoh:
(a)    rumah pekarangan
(b)   kakek nenek
(c)    adik kakak
(d)   menyanyi atau menari.
(2)   Frasa Endosentris Atributif, yaitu frasa endosentris yang memiliki unsur pusat dan mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan.
Contoh:
(a)  rumah besar
(b)  pensil baru
(c)  anak itu
(d)  siang ini
(e)  sedang menyanyi
(f)    sangat sedih
Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atas seperti adalah unsur pusat, sedangkan kata-kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya.
(3)   Frasa Endosentris Apositif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain.
Contoh:
Ridho, anak Pak Roma, sedang menyanyi.
Ridho, …….sedang menyanyi.
……….anak Pak Roma sedang menyanyi.
Unsur ‘Ridho’ merupakan unsur pusat, sedangkan unsur ‘anak Pak Roma’ merupakan aposisi.
Contoh lain:
(a)    Solo, kota budaya
(b)   Indonesia, tanah airku
(c)    Bapak Sutarno, ayahku
(d)   Bangkit, sahabatku.
Frasa yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif, atributif, dan apositif, karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jika diberi aposisi, menjadi frasa endosentris apositif. Jika diberi atribut, menjadi frasa endosentris atributif. Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama, menjadi frasa endosentris koordinatif.
b)      Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Atau dapat diartikan frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP.
Contoh:
Sejumlah orang di gardu.
Menurut Imam (2008), Frase Eksosentris dibagi menjadi dua, yakni:
(1)   Frase Eksosentrik yang Direktif
Komponen pertamanya berupa preposisi, seperti “di, ke dan dari” dan komponen berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.
Contoh:
di rumah
dari pohon mahoni
demi kesejahteraan
(2)   Frase Eksosentrik yang Nondirektif
Komponen pertamanya berupa artikulus, seperti “si” dan “sang” atau”yang”, “para” dan “kaum”, sedangkan komponen keduanya berupa kata berkategori nomina, adjektiva atau verba.
Contoh: si kaya, para remaja kampung
2)      Berdasarkan Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya.
Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya, frasa dibagi menjadi enam.
a)      Frasa nomina, frasa yang unsur pusatnya berupa kata yang termasuk kategori nomina. Unsur pusat frasa nomina itu berupa:
(1)   nomina sebenarnya
contoh: batu itu untuk membangun rumah.
(2)   pronomina
contoh: mereka itu teman saya.
(3)   nama
contoh: Wisnu itu baik.
(4)   kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina
contoh:
dia malas → malas itu merugikan
anaknya tiga ekor → tiga itu sedikit
dia menari→ menari itu menyenangkan
kata malas pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan tiga ekor awalnya frasa numeralia, dan kata menari yang awalnya adalah frasa verba.
b)      Frasa Verba, frasa yang unsurpusatnya berupa kata verba. Secara morfologis, unsur pusat frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata ’sedang’ untuk verba aktif, dan kata ’sudah’ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata’ sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh:
Dia berlari.
Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata ’sedang’ yang menunjukkan verba aktif.
c)      Frasa Ajektifa, frasa yang unsur pusatnya berupa kata ajektifa. Unsur pusatnya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh:
Gedungnya tinggi.
d)      Frasa Numeralia, frasa yang unsur pusatnya berupa kata numeralia. Yaitu kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.
Contoh:
lima buah
tujuh ekor
satu biji
lima belas orang.
e)      Frasa Preposisi, frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda.
Contoh:
Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata)
di rumah
ke depan rumah
dari kantor
untuk kami
f)        Frasa Konjungsi, frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat.
Contoh:
Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P)
Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ.
Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, Ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi.
Dalam praktiknya, frasa dan kata majemuk sulit dibedakan. Banyak orang menilai kata majemuk adalah frasa. Untuk itu perlu dijelaskan bahwa frasa dan kata majemuk itu berbeda.
3. Klausa
a. Pengertian
Klausa ialah unsur kalimat, karena sebagian besar kalimat terdiri dari dua unsur klausa (Rusmaji, 113). Unsur inti klausa adalah S dan P. Namun demikian, S juga sering juga dibuangkan, misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa, dan kalimat jawaban (Ramlan, 1981:62). Dalam blongnya Rapih mengungkapkan bahwa.
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, dan yang lain berfungsi sebagai subyek, obyek, dan sebagai keterangan.fungsi yang bersifat wajib pada konstruksi ini adalah subyek dan predikat sedangkan yang lain tidak wajib.
Sehigga dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa merupakan unsur kalimat yang mewajibkan adanya dua fungsi sintaksis, yakni subjek dan predikat sedang yang lainnya tidak wajib. Penanda klausa adalah P, tetapi dalam realisasinya P itu bisa juga tidak muncul misalnya dalam kalimat jawaban atau dalam bahasa Indonesia lisan tidak resmi. Klausa juga berpotensi menjadi kalimat tunggal karena didalamnya terdapat unsur sintaksis yakni subjek dan predikat.
b. Jenis Klausa
Ada tiga dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. Ketiga dasar itu adalah (1) Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya (BSI), (2) Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P (BUN), (3) Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P (BKF), (4) klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat, dan (5) klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat.
Berikut hasil klasifikasinya:
1)      Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.
Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu S dan P. Dengan demikian, unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S, sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir. Atas dasar itu, maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya, berikut klasifikasinya:
a)      Klausa Lengkap
Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir. Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi :
(1)   Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. Contoh :
Kondisinya masih kritis.
Gedung itu sangat tinggi.
Sekolah itu masih rusak.
(2)   Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S. Contoh :
Masih kritis kondisinya.
Sangat tinggi gedung itu.
Masih rusak sekolah itu.
b)      Klausa Tidak Lengkap
Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan.
2)      Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P.
Unsur negasi yang dimaksud adalah tidaktakbukanbelum, dan jangan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan :
a)      Klausa Positif
Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. Contoh :
Bambang seorang pesepak bola tersohor.
Anak itu mengerjakan PR.
Mereka pergi ke toko.
b)      Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P. Contoh :
Bambang bukan seorang pesepak bola tersohor.
Anak itu belum mengerjakan PR.
Mereka tidak pergi ke toko.
Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P, tetapi secara sematik belum tentu menegatifkan P. Dalam klausa Dia tidak tidur, misalnya, memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Tetapi, dalam klausaDia tidak mengambil pisau, kata negasi itu secara sematik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. Kalau yang dimaksudkan ‘Dia tidak mengambil sesuatu apapun’, maka kata negasi itu menegatifkan O. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, melainkan sendok.
3)      Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P.
Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi :
a)      Klausa Nomina
Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina. Contoh:
Pamannya petani di kampung itu.
Bapak itu dosen linguistik.
b)      Klausa Verba
Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba. Contoh :
Dia membantu para korban banjir.
Pemuda itu menolong nenek tua.
Klausa ini dibagi menjadi beberapa tipe, yakni:
(1) Klausa Transitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba transitif.
Misal: Adik menulis surat.
(2) Klausa Intrasitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba intransitif.
Misal: Adik menyanyi kakak sedang berdandan.
(3) Klausa Refleksif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba refleksif.
Misal: Kakak sedang berdandan.
(4) Klausa Resiprokal
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal.
Misal: Orang itu bertengkar sejak tadi.
c)      Klausa Adjektiva
Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva. Contoh :
Paman sangat kurus.
Rumah itu sudah tua.
Ibu guru sangat baik.
d)      Klausa Numeralia
Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia. Contoh :
Anaknya empat orang.
Mahasiswanya sembilan orang.
Temannya dua puluh orang.
e)      Klausa Preposisiona
Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona. Contoh :
Kertas itu di bawah meja.
Baju saya di dalam lemari.
Orang tuanya di Surabaya.
f)        Klausa Pronomia
Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial. Contoh :
Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah.
Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya.
4)      Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat
Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas :
a)      Klausa Bebas
Klausa bebas ialah klausa yang memiliki subjek dan predikat, sehingga berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat. Contoh :
Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin.
Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa.
Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah.
b)      Klausa terikat
Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor karena strukturnya tidak lengkap. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum: pangilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram. Contoh :
Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia.
Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya.
5)      Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat.
Oscar Rusmaji (116) berpendapat mengenai beberapa jenis klausa. Menurutnya klausa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat.
Berdasarkan tatarannya dalam kalimat, klausa dapat dibedakan atas :
a)      Klausa Atasan
Klausa atasan ialah klausa yang tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa yang lain. Contoh :
Ketika ayah tiba, kami sedang memasak.
Meskipun sedikit, saya tahu tentang hal itu.
b)      Klausa Bawahan
Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain. Contoh :
Dia mengira bahwa hari ini akan hujan.
Jika tidak ada rotan, akarpun jadi.
c. Analisis Klausa
Klasifikasi dapat dianalisis klausa berdasarkan tiga dasar, yaitu berdasarkan fungsi unsur-usurnya, berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya, dan berdasarkan makna unsur-unsurnya.
1)      Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-unsurnya
Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang di sini disebut S, P, O, pel, dan ket. Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S, P dan O, kadang-kadang terdii dari S, P, pel dan ket. Kadang-kadang terdiri dari P saja. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P.
a)      S dan P
Contoh : Budi(S) tidak berlari-lari(P) èTidak berlari-lari(P) Budi(S)
Badannya(S) sangat lemah(P) è Sangat lemah(P) badannya(S)
b)      O dan Pelengkap
P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dai golongan kata verbal intransitif, dan mungkin pula terdirri ari golongan-golongan lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P itu. Contoh :
Kepala Sekolah(S) akan menyelenggarakan(P) pentas seni(O).
Pentas seni(S) akan dislenggarakan(P) kepala sekolah(O)
c)      Keterangan
Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S, P, O dan Pel dapat diperkirakan menduduki fungsi Ket. Berbeda dengan O dan Pel yang selalu terletak di belakang dapat, dalam suatu klausa Ket pada umumnya letak yang bebas, artinya dapat terletak di depan S, P dapat terletak diantara S dan P, dan dapat terletak di belakang sekali. Hanya sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O, P dan Pel, karena O dan Pel boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung dibelakang P. Contoh :
Akibat banjir(Ket) desa-desa itu(S) hancur(P)
Desa-desa itu(S) hancur(P) akibat banjir(O)
2)      Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frase yang menjadi Unsurnya.
Analisis kalusa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur-unsur klausa ini itu disebut analisis kategorional. Analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional, bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional.
3)      Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Makna dan Unsur-unsurnya.
Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya menjadi S, P, O, Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskan bahwa fungsi S terdiri dari N, fungsi P terdiri dari N, V, Bil, FD, fungsi O terdiri dari N, fungsi Pel terdiri dari N, V, Bil dan fungsi ket terdiri dari Ket, FD, N.
Fungsi-fungsi itu disamping terdiri dari kategori-kategori kata atau frase juga terdiri dari makna-makna yang sudah barang tentu makna unsur pengisi fungsi berkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi yang lain.
Widjono (2007:143) membedakan klausa sebagai berikut.
a. Klausa kalimat majemuk setara
Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contohnya sebagai berikut.
Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.
Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.
b. Klausa kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut.
Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia.
Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesia merupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).
c. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini.
Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi.
Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu.
1)      Dia pindah ke Jakarta (klausa utama)
2)      Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan)
3)      Ibunya kawin lagi (klausa sematan)
Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat)
Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)
4. Kalimat
a. Pengertian
Satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa (Cook, 1971: 39-40) dalam (Tarigan, 1983: 5). Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai, 2002: 58). Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan, 1981:6).
Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya (Wijayamartaya, 1991: 9)
Dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
b. Jenis Kalimat
Kalimat dibedakan berdasarkan dengan, (1) jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis response yang diharapkan, (3) sifat hubungan actor-aksi, dan (4) ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama.
1)      Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor.
a)      Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat ini biasa diartikan kalimat yang klausanya tidak lengkap, hanya terdiri dari S/P/O/K saja. Kalimat minor dibedakan atas:
(1)   Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas:
(a)    Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal.
Contoh:
Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja)
(b) Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan.
Contoh :
(Ada yang kau bawa itu?) Buku.
(c) Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat.
Contoh :
Meskipun hujan. (Dia tetap datang)
(d) Kalimat urutan, yaitu kalimat mayor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuri, 1985:263)
Contoh: Karena itu, harga bahan pokok naik.
(1)   Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas:
(a)   Panggilan. Contoh: Sate!
(b) Seruan, biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan.
Contoh: Hai!
(c)   Judul, merupakan suatu ungkapan topik atau gagasan.
Contoh: Dampak negatif penayangan TV.
(d) Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa.
Contoh: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
(e)   Salam
Contoh: Selamat malam!
(f)   Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.).
Contoh: Untuk para pahlawan Indonesia.
b)      Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas:
(1)   Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki: salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain.
Contoh :
Yang berbaju merah muda itu teman saya.
Orang itu wajahnya sangat tampan.
Polisi telah mengatakan bahwa penjahat itu kabur.
(2)   Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri, 1985:316).
Contoh: Aku belajar di kamar, dan ayah menonton televisi.
(3)   Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan.
Contoh: Saya mengerjakan bagian depan, adik bagian belakang.
2)      Berdasarkan respons yang diharapkan, kalimat dibedakan atas :
a)      Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan respons tertentu.
Contoh: Saya tidak membawa uang sama sekali.
b)      Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing respons yang berupa jawaban. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan.
Contoh: Siapa pemilik buku itu?
c)      Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!).
Contoh: Marilah kita berdoa bersama-sama!
3)      Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
a)      Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- danber- yang dapat dikombinasikan dengan -i atau -kan.
Contoh: Ayah membelikan adik roti.
b)      Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks -i dan -kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri, 1985:434)
Contoh: Rotinya ditaburi keju.
c)      Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh: Jangan menyiksa diri sendiri.
d)      Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. (Samsuri, 1985:198).
Contoh: Dua bersaudara itu saling baku hantam.
4)      Bedasarkan ada tidaknya unsur negatif pada klausa utama, kalimat dibedakan atas :
a)      Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsur negatif, peniadaan, atau penyangkalan.
Contoh: Di Ambalat diresmikan monumen perbatasan.
b)      Kalimat negatif, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsur negatif, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak, tiada (tak), bukan, jangan. (Samsuri, 1985:250)
Contoh :
Sedikitpun aku tidak berkata bohong.

B. Sejarah Sintaksis di Indonesia
                Sintaksis sebagai cabang ilmu bahasa yang sudah cukup lama di pelajari oleh para ahli. Sejak tradisi yunani – latin sampai sekarang, sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang selalu menjadi fokus kajian. Sejalan dengan timbulnya berbagai aliran di dalam ilmu bahasa, timbul pula berbagai aliran sintaksis. Karena sintaksis merupakan bagian dari tatabahasa, pembicaraan sejarah sintaksis di indonesia juga sejalan dengan pembicaraan sejarah tatabahasa di indonesia. Pada umumnya, buku tatabahasa bahasa Melayu waktu itu ditulis oleh orang asing, misalnya Werndly (1736) dan Marsden (1812). Tatabahasa bahasa Indonesia pada awalnya ditulis menurut model tatabahasa Yunani-Latin dan didasarkan pada kajian bahasa Melayu. Artinya, tatabahasa bahasa Indonesia tidak disusun berdasarkan sifat, ciri, dan atau perilaku bahasa Indonesia. Walaupun bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu serumpun, bahkan bahasa Indonesia itu dikembangkan dari bahasa Melayu , saat ini kedua bahasa itu sudah banyak memiliki ciri ,sifat dan perilaku yang berbeda. Sehubungan dengan hal itu, dapat dinyatakan bahwa buku tata bahasa yang ditulis oleh Sasrasoeganda dan Alisjahbana dikembngkan berdasarkan warisan konsep dari Hoilander yang mewarisi konsep – konsep Werndly.
2. Kedudukan dan Alat – alat Sintaksis
  1. Kedudukan Sintaksis
                yang dimaksud kedudukan sintaksis adalah keberadaan dan keterkaitan sintaksis diantara cabang ilmu bahasa yang lain, yaitu fonologi, morfologi,dan semantik. Pada umunya, dalam linguistik abad ke-19 (atau linguistik tradisional) dan linguistik awal abad ke-20, morfologi dianggap dan diperlakukan sama dengan tatabahasa (bauer,1988).
Perhatikan bagan berikut ini.
Sesuai dengan bagan diatas, fonologi juga merupakan cabang ilmu bahasa yang mrngkaji seluk-beluk bunyi bahasa, yaitu fon dan fonem.
v  Fonologi membicarakan (i) bagaimana bunyi bahasa diciptakan, (ii) alat-alat ucap yang digunakan, (iii) bagaimana bunyi bahasa dapat sampai kepaada telinga pendengarnya, (iv) bagaimana bunyi bahasa mengalami dekoding sebagai pesan,dan (v) bagaimana bunyi bahasa itu berfungsi membedakan makna.
v  Semantik sebagai cabang ilmu bahasa bertugas membicarakan makna, baik makna lesikal maupun makna gramatikal.
v  Morfologi dan sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa.sebagai cabang ilmu bahasa, morfologi mengkaji bentuk atau struktur kata. Dalam kajian sintaksis, kata menjadi satuan terkecil, sedangkan satuan terbesarnya ialah wacana.
Sintaksis :  wacana, kalimat, klausa, dan frase. Sedangkan morfologi : kata,dan morfem.
B. Alat – alat sintaksis
                alat sintaksis adalah bahasa atau cara yang digunakan untuk membangun konstruksi sintaksis: frase, klausa, kalimat, dan wacana.
                Kentjono (1982) dan Kridalaksana (1988) menyebutkan empat macam alat sintaksis, yaitu urutan, bentuk kata, intonasi, dan kata tugas. Dengan mengggunakan ke empat alat tersebut yang berbeda – beda dapat dibentuk frase, klausa, dan atau kalimat yang berbeda – beda. Disamping itu penggunaan  urutan yang berbeda – beda juga dapat digunakan untuk membentuk konstruksi sintaksis yang berbeda – beda. Pemakaian kata menanam akan menghasilkan kontruksi sintaksis yang berbeda dengan penggunaan kata ditanam. Perhatikan contoh berikut.
Petani mengambil singkong.
Singkong diambil petani.
Bagaimana konstruksi sintaksis yang dibangun dengan kata mengambikan dan diambilkan? Perhatikan contoh berikut ini.
Adi mengambilkan Nenek surat kabar.
Nenek diambilkan  Adi surat kabar.
Sebuah konsttruksi kalimat yang jenis dan urutan katanya sama dapat diubah menjadi klimat-kalimat yang berbeda dengan menggunakan intonasi yang berbeda. Perhatikan contoh.
Nenek kembali ke Jakarta.       (intonasi berita)
Nenek kembali ke Jakarta?      (intonasi tanya)
Nenek kembali ke Jakarta!  (intonasi perintah)
Selanjutnya, pemakaian kata tugas yang berbeda-beda juga dapat digunakan untuk menyusun kontruksi sintaksis yang bentuk dan maknanya berbeda-beda
Ayah dan ibu (bermakna penjumlahan)
Ayah atau ibu  (bermakna pemilihan)
3.Konstruksi dan Objek Sintaksis
  1. Konstruksi Sintaksis
                Konstruksi sintaksis ialah satuan bahasa yang bermakna yang termasuk kedalam bidang sintaksis yang minimal terdiri atas dua unsur. Oleh karena itu konstruksi sintaksis ialah konstruksi yang mungkin berupa wacana, kalimat, klausa atau frase.
Ø  Wacana ialah konstruksi sintaksis yang pada umumnya terdiri atas kalimat – kalimat yang mendukung sebuah gagasan yang lengkap. Wacana tulis bisa berupa paragraf atau karangan yang utuh.
Ø  Kalimat ialah kontruksi sintaksis yang terdiri atas unsur – unsur segmental yang mungkin berupa kata,frase, atau klausa dan unsur – unsur suprasegmental yang berupa jeda atau kesenyapan dan intonasi. Terlepas dari beberapa jumlah kata yang menjadi unsurnya,semua kalimat memiliki unsur suprasegmental yang berupa kesenyapan dan intonasi perhatikan contoh.
1
Oh!
(satu kata/seruan)
2
Minggir!
(satu kata)
3
Sudah sampai!
(satu frase)
4
Para penumpang berteriak – teriak.
(Satu klausa)
5
Kendaraan itu menepi kemudian para penumpang turun.
(dua klausa)
6
Kendaraan itu menepi, pintu segera dibuka oleh kondektur, kemudian para penumpang turun.
(tiga klausa)

Ø  Klausa ialah konstruksi sintaksis yang minimal terdiri dari atas dua kata yang mendukung fungsi subjek dan predikat. Klausa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas subjek, predikat, baik disertai objek, pelengkap, keterangan, maupun tidak.
Konstruksi sintaksis penumpang berteriak adalah konstruksi klausa dengan unsur penumpang sebagai pengisi fungsi subjek dan unsur berteriak sebagai pengisi fungsi predikat. Konstruksi sintaksis yang disebut klausa itu bisa terdiri lebih dari dua kata.contoh:
Subjek                                  predikat
Penumpang                       berteriak
Penumpang itu      terus berteriak

Ø  Frase ialah konstruksi sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi (Ramlan, 1982 : 121). Artinya frase selalau terdiri atas dua kata atau lebih. Di samping itu, frase tidak pernah melampaui batas fungsi. Artinya, frase secara keseluruhan selalu berada didalam satu fungsi tertentu, yaitu S,P,O,PEL,KET.
 Contoh ; ibu sedang membeli sayur di pasar.
Ø  Kata bukan merupakan konstruksi sintaksis melainkan unsur terkecil yang dapat digunakan untuk membangun konstruksi sintaksis.
B. Objek Sintaksis
                Sudah dijelaskan bahwa sintaksis itu ilmu bahasa yang membicarakan seluk – beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Jadi objek kajian sintaksis ialah wacana, kalimat, klausa, dan frase dengan segala permasalahannya, baik mengenai hubungan bentuk maupun hubungan makna unsur – unsurnya. Di dalam sintaksis, kata diperlakukan sebagai satuan terkecil pembentuk konstruksi frase, klausa, dan kalimat.
Frase, di dalam kajian sintaksis, sekaligus sebagai objek sintaksis, diperlakukan sebagai satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak berciri klausa dan pada umunya menjadi unsur pembentuk klausa (cook, 1971; kentjono, 1982). Unsur – unsur di sebuah frase itu tidak membentuk konstruksi klausa atau menjalani fungsi S dan P walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa didalam sebuah frase itu terdapat konstruksi klausa yang secara fungsional terdiri atas S dan P. Contoh :

frase
klausa
Rumah besar
Rumah itu besar
Pegawai baru
Pegawai itu baru
Gudang beras itu
Itu gudang beras
Ketika adik mandi
Adik mandi

Contoh diatas menunjukkan bahwa frase dan klausa sama-sama memiliki unsur yang berupa kata.
Perhatikan unsur langsung yang membentuk frase berikut ini.

frase
Unsur langsung 1
Unsur langsung 2
Rumah besar
rumah
besar
Pegawai baru
Pegawai
baru
Gudang beras itu
Gudang beras
itu
Ketika adik mandi
ketika
Adik mandi

Hubungan makna antar unsur langsung yang satu dan unsu yang lain didalam konstruksi frase itu tidak bersifat predikatif atau bukan hubungan antara subjek dan predikat.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa unsur langsung sebuah klausa menampakan hubungan predikatif, sedangkan unsur langsung pembentuk frase tidaklah demikian. Perhatikan unsur langsung klausa-klausa berikut ini.
klausa
subjek
predikat
Rumah itu besar
Rumah itu
besar
Pegawai itu baru
Pegawai itu
baru
Itu gudang beras
itu
Gudang beras
Adik mandi
adik
mandi

Di samping frase dan klausa, kalimat juga merupakan objek kajian sintaksis. Berbagai bentuk kalimat yang menampakkan berbagai makna juga merupakan permasalahan yang dikaji, dideskripsikan, diterangjelaskan oleh sintaksis. Sebagai objek sintaksis, kalimat di perlakukan sebagai sebuah konstruksi yang memiliki dua unsur, yaitu unsur segmental yang berupa kata, frase, atau klausa dan unsur suprasegmental yang berupa kesenyapan atau jeda dan intonasi. Paduan antara unsur segmental dan suprasegmental itu merupakan aspek bentuk kalimat. Unsur segmental yang berbeda-beda itu oleh sintaksis diduga memiliki korelasi dengan aspek makna yang berbeda – beda.

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Hendry Setiawan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger